Kamis, 24 Juli 2008

Buah Yang Bersusun-susun Tandannya....


SAUDARA, ketika peringatan 1000 hari meninggalnya kakak perempuan, saya tertarik dengan seperangkat sesaji seperti pada gambar ini, yang dipersiapkan oleh para ipar kakak saya. Ada tapai terbungkus dekat dengan kue "apem", ada seperangkat pemakan sirih (daun sirih dan lain-lainnya), ada dua kelas air putih, ada pisang raja dan kembang setaman, serta seekor ayam 'ingkung'.

Terus terang setelah saya perhatikan sajen ini sepertinya menampilkan sesuatu yang pernah saya baca. Sehingga sesajen ini merupakan suatu simbol harapan dari keluarga yeng mempersiapkannya untuk almarhumah. Harapan itu adalah kehidupan 'di alam sana' seperti yang dengan padat digambarkan dalam surat Kejadian Yang Besar ayat 8 s.d. 29. Diantaranya adalah ayat 17 - 21: Mereka dikelilingi oleh anak muda yang kekal, dengan membawa cangkir-cangkir, kendi-kendi dan piala dari air jernih yang mengalir. Mereka tidak pening dan mabuk karenanya. Dan buah-buah dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka sukai.
Lebih jelas lagi pada ayat 28-29: Mereka berada di antara pohon sidir yang tidak berduri dan pohon-pohon pisang yang bersusun-susun.

Ya dalam Surat itu adalah gambaran tempat hidup bagi golongan kanan di SURGA. Sungguh menakjubkan. Bahwa ternyata keindahan (dilambangkan dengan bunga tiga warna), daging burung (ingkung ayam) dan pohon pisang ada terkandung dalam suatu surat di dalam Kitab Suci Qur'an. Itu adalah lingkungan kehidupan surga. Dan itu bisa terwujud nyata sekarang. Ya, SEKARANG di lingkungan hutan hujan tropika seperti di Indonesia ini. Jadi INDONESIA adalah surga? Barangkali iya. Dan karena itu nyata, bisa kita bangun bersama. Sehingga semakin surgawi.

Namun pada kenyataannya sekarang, banyak bagian bumi Indonesia semakin gersang, banyak bencana, kumuh, jorok dan lain-lain yang buruk, bagaimana ini? Apa maknanya? Apa sebabnya? Apakah karena kita semua mengabaikannya? Atau justru itu balasan bagi kita yang membiarkan sebagian dari kita merusaknya? Mari kita renungkan bersama...[nuhun]